Lima hari sekolah, efektifkah?

Program 5 hari sekolah di SD
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof Dr Muhajir setelah 2 hari setelah dilantik menggantikan Bapak Ani Baswedan langsung melemparkan ide untuk digunakannya Full Day School pada sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Ide ini oleh masyarakat langsung ditanggapi dengan berbagi pernytaan ada yang pro maupun kontra. Pro dan kontra ide tersebut wajar karena ide tersebut belum dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan, sehingga yang kontra dengan ide-ide full day school akan melemparkan sanggahan dan juga mungkin makian diantara nya adalah full day school akan mematikan kepekaan sosial anak, anak menjadi pulang sore bahkan malam, dan penjelasan-penjelasan lain yang bisa mendukung alasan mereka menolak ide full day school.
Full day school, berasal dari bahasa Inggris, berarti sekolah sepanjang waktu namun pengertian Full day school menurut istilah adalah sebuah sekolah yang membeiakukan jam belajar sehari penuh antara jam 07.00-15.30/ 16.00. Full day school, adalah program sekolah di mana proses pembelajaran dilaksanakan sehari penuh di sekolah. Dengan kebijakan seperti ini maka waktu dan kesibukan anak-anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan sekolah dari pada di rumah. Anak-anak dapat berada di rumah lagi setelah menjelang sore. Full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran agama secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman agama siswa. Dengan jam tambahan dilaksanakan pada jam setelah sholat dhuhur sampai sholat ashar, praktis nya sekolah model ini masuk pukul 07:00 WIB dan pulang pada pukul 15 : 30. Menurut Sismanto, full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran Islam secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa. Biasanya jam tambahan tersebut dialokasikan pada jam setelah sholat Dhuhur sampai sholat Ashar, sehingga praktis sekolah model ini masuk pukul 07.00 WIB pulang pada pukul 16.00 WIB. Berangkat dari pengertian tersebut, disimpulkan bahwa full day school adalah Sekolah umum yang memadukan system pengajaran islam secara intensif dengan menambahi waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa.
Full day school sebenarnya memiliki kurikulum inti yang sama dengan sekolah umumnya, namun mempunyai kurikulum lokal. Dengan demikian kondisi anak didik lebih matang dari segi materi akademik dan non akademik. Secara umum, full day school didirikan karena beberapa tuntutan, diantaranya adalah: Pertama, minimnya waktu orang tua di rumah, lebih-lebih karena kesibukan di luar rumah yang tinggi (tuntutan kerja). Kedua, perlunya formalisasi jam tambahan keagamaan karena dengan minimnya waktu orang tua di rumah maka secara otomatis pengawasan terhadap hal tersebut juga minim. Ketiga, perlunya peningkatan mutu pendidikan sebagai solusi alternatif untuk mengatasi problematika pendidikan. Peningkatan mutu tidak akan tercapai tanpa terciptanya suasana dan proses pendidi kan yang representative dan professional. Dari penjelasan-penjelasan yang ada dapat diambil kesimpulan bahwa kekawatiran bahwa siswa akan kurang peka terhadap lingkungan sosial, akan hilangnya porsi belajar agama menjadi kurang beralasan karena justru di Full day school , porsi jam untuk materi dan praktek keagaamaan siswa semakin banyak. Yang menjadi kendala adalah mungkinkah sekolah sebagai eksekutor kebijakan ini akan siap baik program maupun SDM yang akan menjadi motor penggeraknya. Logisnya program ini sebaiknya dijalankan dengan cara piloting dahulu baru diterapkan kesekolah lain setelah adanya evaluasi pelaksanaan pada sekolah piloting. 
Kini program guru harus disekolah minimal delapan jam sudah dimunculkan. Permasalahan yang muncul pertama  adalah guru harus disekolah 8 jam hanya guru saja atau guru bersama siswa, Kalau bersama siswa berarti program full day school akan muncul lagi tetapi dengan baju yang berbeda yaitu guru harus 8 jam disekolah. yang kedua jika guru disekolah diberlakukan hanya kepada guru yang bersertifikat maka akan menjadi semrawut karena sebagian besar guru kita di tingkat SD kebanyakan adalah dari guru wiyata bakti yang mereka belum menerima tunjangan profesi. 
Dalam program 8 jam guru disekolah juga secara tidak langsung menandaskan sekolah yang mengajarkan muridnya sampai pukul 15.00 adalah sekolah yang menjalankan program lima hari sekolah.

Comments

Popular Posts