Lima hari sekolah, efektifkah?
![]() |
| Program 5 hari sekolah di SD |
Full day school, berasal dari bahasa Inggris, berarti sekolah sepanjang
waktu namun pengertian Full day school menurut istilah adalah sebuah
sekolah yang membeiakukan jam belajar sehari penuh antara jam
07.00-15.30/ 16.00. Full day school, adalah program sekolah di mana proses pembelajaran
dilaksanakan sehari penuh di sekolah. Dengan kebijakan seperti ini maka
waktu dan kesibukan anak-anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan
sekolah dari pada di rumah. Anak-anak dapat berada di rumah lagi setelah
menjelang sore. Full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem
pengajaran agama secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu
khusus untuk pendalaman agama siswa. Dengan jam tambahan dilaksanakan
pada jam setelah sholat dhuhur sampai sholat ashar, praktis nya sekolah
model ini masuk pukul 07:00 WIB dan pulang pada pukul 15 : 30. Menurut Sismanto, full day school merupakan model sekolah umum yang
memadukan sistem pengajaran Islam secara intensif yaitu dengan memberi
tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa. Biasanya jam
tambahan tersebut dialokasikan pada jam setelah sholat Dhuhur sampai
sholat Ashar, sehingga praktis sekolah model ini masuk pukul 07.00 WIB
pulang pada pukul 16.00 WIB. Berangkat dari pengertian tersebut, disimpulkan bahwa full day school
adalah Sekolah umum yang memadukan system pengajaran islam secara
intensif dengan menambahi waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa.
Full day school sebenarnya memiliki kurikulum inti yang sama dengan
sekolah umumnya, namun mempunyai kurikulum lokal. Dengan demikian
kondisi anak didik lebih matang dari segi materi akademik dan non
akademik. Secara umum, full day school didirikan karena beberapa
tuntutan, diantaranya adalah: Pertama, minimnya waktu orang tua di
rumah, lebih-lebih karena kesibukan di luar rumah yang tinggi (tuntutan
kerja). Kedua, perlunya formalisasi jam tambahan keagamaan karena dengan
minimnya waktu orang tua di rumah maka secara otomatis pengawasan
terhadap hal tersebut juga minim. Ketiga, perlunya peningkatan mutu
pendidikan sebagai solusi alternatif untuk mengatasi problematika
pendidikan. Peningkatan mutu tidak akan tercapai tanpa terciptanya
suasana dan proses pendidi kan yang representative dan professional. Dari penjelasan-penjelasan yang ada dapat diambil kesimpulan bahwa kekawatiran bahwa siswa akan kurang peka terhadap lingkungan sosial, akan hilangnya porsi belajar agama menjadi kurang beralasan karena justru di Full day school , porsi jam untuk materi dan praktek keagaamaan siswa semakin banyak. Yang menjadi kendala adalah mungkinkah sekolah sebagai eksekutor kebijakan ini akan siap baik program maupun SDM yang akan menjadi motor penggeraknya. Logisnya program ini sebaiknya dijalankan dengan cara piloting dahulu baru diterapkan kesekolah lain setelah adanya evaluasi pelaksanaan pada sekolah piloting.
Kini program guru harus disekolah minimal delapan jam sudah dimunculkan. Permasalahan yang muncul pertama adalah guru harus disekolah 8 jam hanya guru saja atau guru bersama siswa, Kalau bersama siswa berarti program full day school akan muncul lagi tetapi dengan baju yang berbeda yaitu guru harus 8 jam disekolah. yang kedua jika guru disekolah diberlakukan hanya kepada guru yang bersertifikat maka akan menjadi semrawut karena sebagian besar guru kita di tingkat SD kebanyakan adalah dari guru wiyata bakti yang mereka belum menerima tunjangan profesi.
Dalam program 8 jam guru disekolah juga secara tidak langsung menandaskan sekolah yang mengajarkan muridnya sampai pukul 15.00 adalah sekolah yang menjalankan program lima hari sekolah.


Comments
Post a Comment