Anak Bisa Menjadi Pembatal Orangtua Masuk Surga
Bismillah …
Ada seorang anak, yang dimasa kecilnya begitu lucu,
menggemaskan, rajin, pintar, dan cerdas, serta hal-hal baik lainnya melekat ada
pada diri anak tersebut. Pendidikan parenting yang diperolehnya di masa kecil
begitu baik. Di sekolah prestasinya juga menonjol. … Namun sayangnya, saat ia
beranjak remaja kondisi tersebut pelan-pelan berubah, sifat buruknya lebih
dominan dari sifat baiknya. Sang anak menjadi pribadi yang berani menentang
hukum-hukum Allah. Ia mengusung nilai-nilai liberalisme yang menghendaki
kebebasan individu dalam segala bidang, sehingga kehidupannya pun jauh dari
nilai-nilai agama. Demikian berlanjut terus ke perjalanan hidupnya di masa
tuanya. Mengapa kondisinya bisa berakhir seperti itu? Apakah resikonya kelak di
akhirat hanya ditanggung sendiri oleh anak?Mari kita bahas.
Mungkin Anda pernah mendengar kisah tentang orangtua yang sudah divonis masuk surga, tetapi kemudian dibatalkan dalam pengadilan akhirat hingga akhirnya dia masuk neraka bersama anaknya. Itu terjadi karena anaknya menggugat orangtuanya yang tidak pernah memperhatikan agamanya sewaktu di dunia, sementara orangtua sibuk dengan urusannya sendiri.
Mungkin Anda pernah mendengar kisah tentang orangtua yang sudah divonis masuk surga, tetapi kemudian dibatalkan dalam pengadilan akhirat hingga akhirnya dia masuk neraka bersama anaknya. Itu terjadi karena anaknya menggugat orangtuanya yang tidak pernah memperhatikan agamanya sewaktu di dunia, sementara orangtua sibuk dengan urusannya sendiri.
Sebagai pengantar jurnal, dan mengenang gaya tausiyah
yang kocak dari alm. KH. Zainuddin MZ, berikut ini saya cuplikkan tausiyah
beliau terkait cerita di atas dengan durasi 6 menit. Selamat menyimak di bawah
ini atau lewat Soundcloud.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
[QS At-Tahriim: 6]
.
Tentang ayat ini dalam kitab tafsir Ath-Thabari, Qatadah berkata: “Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!”
Ibnu Jarir berkata: “Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!”
Dan Ibnu Umar berkata: “Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.”
Tentang ayat ini dalam kitab tafsir Ath-Thabari, Qatadah berkata: “Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!”
Ibnu Jarir berkata: “Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!”
Dan Ibnu Umar berkata: “Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.”
Dari penjelasan para mufassir tersebut, dapat dipahami
bahwa ayat ke-6 dari QS At-Tahriim itu merupakan sebuah perintah tegas
kepada seorang Muslim untuk menjaga keluarganya dari siksa api neraka, yaitu
dengan cara memperhatikan pendidikan agama mereka dan selalu memperhatikan
tindak-tanduk mereka. Perintah adalah kewajiban, maka bila perintah
tersebut tidak dipatuhi dengan baik oleh seorang Muslim, tentu ada konsekuensi
yang akan dia dapatkan di akhirat nanti.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Seorang laki-laki adalah
pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa
yang dipimpinnya.”
[HR Bukhari dan Muslim]
[HR Bukhari dan Muslim]
.
Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa bila seorang Muslim tidak mendidik anaknya dengan baik, maka kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas tugasnya di dunia itu, dan tentunya ada konsekuensi yang akan dia dapatkan.
Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa bila seorang Muslim tidak mendidik anaknya dengan baik, maka kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas tugasnya di dunia itu, dan tentunya ada konsekuensi yang akan dia dapatkan.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda:
“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat
derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Kelak ia akan berkata, ’’Wahai
Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?” Dijawab-Nya, “karena permohonan
ampunan anakmu untukmu””
[HR Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Ibn Katsir]
[HR Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Ibn Katsir]
.
Bila seorang hamba mendapatkan hasil yang baik (di akhirat) karena dia telah mendidik anaknya dengan baik sehingga menjadi anak shaleh yang berdo’a memohonkan ampunan untuknya (hanya do’a anak shaleh yang diterima, saat pintu amal terputus, saat di alam barzah); maka dapat dipahami secara mafhum mukhalafah (pengertian terbalik), bahwa seorang hamba juga akan mendapatkan hasil yang tidak baik (di akhirat) karena lalai dalam memperhatikan dan mendidik anaknya. Maka berhati-hatilah, bahwa anak bisa menjadi pembatal orangtua masuk surga!
Bila seorang hamba mendapatkan hasil yang baik (di akhirat) karena dia telah mendidik anaknya dengan baik sehingga menjadi anak shaleh yang berdo’a memohonkan ampunan untuknya (hanya do’a anak shaleh yang diterima, saat pintu amal terputus, saat di alam barzah); maka dapat dipahami secara mafhum mukhalafah (pengertian terbalik), bahwa seorang hamba juga akan mendapatkan hasil yang tidak baik (di akhirat) karena lalai dalam memperhatikan dan mendidik anaknya. Maka berhati-hatilah, bahwa anak bisa menjadi pembatal orangtua masuk surga!
Secara umum, Parenting adalah upaya terbaik yang
ditempuh oleh orangtua dalam mendidik anak dengan memanfaatkan sumber-sumber
yang tersedia dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar
secara mandiri. Untuk masa anak-anak, pendidikan parenting lebih ditekankan
pada proses interaksi berkelanjutan antara orangtua dan anak yang meliputi
aktivitas-aktivitas seperti: memberi makan (nourishing), memberi petunjuk
(guiding), dan melindungi (protecting) anak-anak ketika mereka tumbuh
berkembang.
Sedangkan parenting untuk usia remaja sebaiknya lebih
ditekankan pada proses interaksi berkelanjutan yang meliputi
aktivitas-aktivitas seperti: membekali dengan ilmu yang bermanfaat
(enlightening), memberi petunjuk dan nasehat (coaching + counseling), dan
melindungi (protecting) anak-anak dari serbuan perang pemikiran atau perang
akidah. Ada sebuah petuah bijak:
“You will be
the same person in five years as you are today except for the people you meet and the books you read.”
[Charlie “Tremendous” Jones]
[Charlie “Tremendous” Jones]
.
Dengan demikian, orangtua seharusnya tidak lalai memperhatikan kualitas pergaulan anaknya, juga peduli dengan buku-buku bacaan anaknya. Tidak dengan kekuatiran yang berlebihan, namun bersama-sama belajar mengelolanya, agar tidak tumbuh benih-benih kebencian dalam kehidupan sosial yang majemuk.
Dengan demikian, orangtua seharusnya tidak lalai memperhatikan kualitas pergaulan anaknya, juga peduli dengan buku-buku bacaan anaknya. Tidak dengan kekuatiran yang berlebihan, namun bersama-sama belajar mengelolanya, agar tidak tumbuh benih-benih kebencian dalam kehidupan sosial yang majemuk.
Sungguh, betapa tidak akan ada artinya ketika anak
telah berhasil meraih berbagai prestasi yang membanggakan, namun pondasi
dasarnya rapuh. Hal ini bisa menjadi BOM WAKTU bagi anak di usia dewasanya
kelak, yang juga berdampak pada orangtuanya.
Lihatlah berbagai kasus KKN yang banyak merugikan
negara, yang diisi oleh para terdidik.
Lihatlah kasus perzinaan, perselingkuhan, dan perilaku
seksual menyimpang, yang berakhir rusaknya garis keturunan.
Lihatlah kasus anak tidak dianggap lagi oleh
orangtuanya karena akidahnya telah digadaikan (murtad).
Lihatlah episode kehidupan dimana ada anak yang
terbelenggu kesibukan duniawi tidak lagi peduli dengan orangtuanya yang telah
berusia senja.
Lihatlah kasus mereka yang terperosok mengikuti aliran
sesat, yang selain menggerogoti iman juga merongrong finansial serta merusak
keutuhan keluarga.
Padahal, semuanya tampak baik-baik saja pada awalnya.
Namun nyatanya, di usia 50 tahun ke atas diisi dengan gundah gulana, tiada
kedamaian hati… akibat kelakuan sang anak.
Sebelum semuanya terlambat, pandanglah anak-anak kita
hari ini…
… sudahkah kita memperlakukan anak kita dengan baik?
… sudahkah kita menginvestasikan waktu yang berkualitas bersama mereka?
… sudahkah kita mengetahui harapan-harapannya?
… impiannya?
… keinginannya?
yang semuanya dibarengi dengan bekal ilmu yang bermanfaat dari orangtuanya?
Mari susun game plan pertanggung-jawaban terhadap titipan yang telah diamanahkan-Nya kepada kita.
… sudahkah kita memperlakukan anak kita dengan baik?
… sudahkah kita menginvestasikan waktu yang berkualitas bersama mereka?
… sudahkah kita mengetahui harapan-harapannya?
… impiannya?
… keinginannya?
yang semuanya dibarengi dengan bekal ilmu yang bermanfaat dari orangtuanya?
Mari susun game plan pertanggung-jawaban terhadap titipan yang telah diamanahkan-Nya kepada kita.
Di dunia luar, anak diberikan pendidikan teknis
(akademis) untuk masa depannya yang gemilang. Di dalam rumah, diimbangi dengan
pendidikan karakter dari orangtuanya, karena itu telah menjadi kewajiban atas
perintah-Nya. Anak-anak muslimin yang tidak berkarakter adalah mangsa empuk
racun pemikiran.

Comments
Post a Comment